Sabtu, 10 Oktober 2009
Dengan sifat yang dimiliki Jan Di, bentroklah ia dengan ketua F4 yakni, Gu Jun Pyo - yang akhirnya jatuh cinta kepada Jan Di karena mirip dengan kakaknya. Kisah terus bergulir dengan situasi cinta segitiga antara Gu Jun Pyo, Jan Di dan Yoon Ji Hoo-orang yang selalu ada di saat Jan Di membutuhkan tempat berlindung.
Label: Korean Star
Jumat, 09 Oktober 2009
English version :
The Milky Way upon the heavens
is twinkling just for you
and Mr. Moon he came by
to say goodnight to you
I’ll sing for you I’ll sing for mother
We’re praying for the world
and for the people everywhere
gonna show them all we care
Chorus:
Oh my sleeping child the world’s so wild
but you’ve build your own paradise
That’s one reason why I’ll cover you sleeping child
If all the people around the world
they had a mind like yours
we’d have no fighting and no wars
there would be lasting peace on Earth
If all the kings and all the leaders
could see you here this way
they would hold the Earth in their arms
they would learn to watch you play
Chorus:
Oh my sleeping child the world’s so wild
but you’ve build your own paradise
That’s one reason why I’ll cover you sleeping child
I’m gonna cover my sleeping child
Keep you away from the world so wild
INDONESIAversion :
Bima Sakti atas langit
adalah sekejap hanya untuk Anda
dan Tuan bulan datang
untuk mengucapkan selamat malam kepada Anda
Aku akan bernyanyi untukmu aku akan menyanyi untuk ibu
Kita berdoa untuk dunia
dan bagi orang-orang di mana-mana
akan menunjukkan kepada mereka semua kita peduli
REff :
Oh my anak tidur di dunia yang begitu liar
namun Anda telah membangun surga sendiri
Itulah salah satu alasan mengapa saya akan melindungi Anda tidur anak
Jika semua orang di seluruh dunia
mereka punya pikiran seperti Anda
kami tidak punya pertempuran dan tidak ada perang
akan ada perdamaian abadi di Bumi
Jika semua raja dan semua pemimpin
bisa melihat Anda di sini dengan cara ini
mereka akan memegang Bumi di lengan mereka
mereka akan belajar untuk menonton Anda bermain
Reff :
Oh my anak tidur di dunia yang begitu liar
namun Anda telah membangun surga sendiri
Itulah salah satu alasan mengapa saya akan melindungi Anda tidur anak
Aku akan menutupi anak yang sedang tidur
Membuat Anda menjauh dari dunia yang begitu liar
Label: Sing a sOng
Jumat, 02 Oktober 2009
I Ceker Cipak
Alkisah, di sebuah kampung di Pulau Dewata atau Bali,
“Bu, apakah Ibu mempunyai uang tabungan?” tanya I Ceker Cipak kepada ibunya.
“Untuk apa uang itu, Anakku?” ibunya balik bertanya.
I Ceker Cipak pun menceritakan niatnya ingin berdagang ke
“Wah, Ibu merasa senang dan mendukung niatmu itu, Anakku! Ibu ingin sekali membantu usahamu itu, tapi Ibu hanya mempunyai uang 200 kepeng. Uang tersebut Ibu tabung selama bertahun-tahun. Apakah uang itu cukup untuk membuka usaha barumu itu, Anakku?” tanya ibunya.
“Cukup, Bu! Uang tersebut akan Ceker gunakan untuk membeli jagung secukupnya,” jawab I Ceker Cipak.
Mendengar jawaban itu, ibu I Ceker Cipak segera mengambil uang tabungannya, lalu memberikan kepada anak semata wayangnya. Keesokan harinya, I Ceker Cipak pun berangkat ke
Setelah berjalan setengah hari, sampailah I Ceker Cipak di sebuah perkampungan. Ketika akan melewati perkampungan itu, ia melihat seorang warga yang sedang menyiksa seekor kucing. Melihat tindakan warga yang tidak berbelaskasihan itu, ia segera mendekati dan memintanya agar menghentikan penyiksaan terhadap kucing tersebut.
“Maaf, Tuan! Jangan bunuh kucing itu! Jika Tuan berkenan, saya akan menebusnya dengan uang 50 kepeng,” pinta I Ceker Cipak.
Setelah menyerahkan uang 50 kepeng kepada warga itu, I Ceker Cipak melanjutkan perjalanan dengan membawa serta kucing itu. Tak berapa jauh berjalan, ia kembali melihat seorang warga sedang memukuli seekor anjing karena mencuri telur ayam. Melihat hal itu, ia pun menebus anjing itu dengan harga 50 kepeng. Kini, ia tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh kucing dan anjing yang telah ditebusnya.
Ketika hari menjelang sore, I Ceker Cipak bersama kucing dan anjing tebusannya tiba di sebuah hutan lebat. Saat melewati hutan lebat itu, ia melihat beberapa orang warga sedang memukuli seekor ular yang telah memangsa seekor bebek. Karena merasa kasihan, ia pun menebus ular itu dengan 50 kepeng.
“Hai, teman-teman! Anak Muda itu sudah gila. Untuk apa dia menebus ular yang tidak ada gunanya itu?” celetuk seorang warga.
I Ceker Cipak tidak menghiraukan celetukan warga itu. Setelah memasukkan ular itu ke dalam keranjangnya, ia segera berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanan. Setelah menyusuri hutan lebat, I Ceker Cipak memasuki daerah persawahan. dan menemui para petani sedang menangkap seekor tikus dan memukulinya. I Ceker Cipak tidak sampai hati melihat tikus itu disiksa oleh mereka.
“Maaf, Tuan-Tuan! Tolong jangan siksa tikus itu! Jika Tuan-Tuan berkenan, biarlah aku tebus tikus itu dengan harga 25 kepeng,” pinta I Ceker Cipak.
Ketika I Ceker Cipak bersama keempat binatang tebusannya sedang asyik makan, tiba-tiba seorang prajurit istana yang sedang patroli datang menghampirinya.
“Hai, Anak Muda! Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya prajurit itu.
“Nama saya I Ceker Cipak, Tuan! Maaf jika kedatangan saya mengganggu ketenteraman
“Apa maksud kedatanganmu ke
“Maaf, Tuan! Sebenarnya, saya datang ke
“Wah, hatimu sungguh mulia, Anak Muda!” puji prajurit itu
Prajurit itu kemudian mengajak I Ceker Cipak ke istana untuk menghadap sang Raja. Setibanya di istana, prajurit itu menceritakan maksud kedatangan I Ceker Cipak ke
Malam telah larut, namun I Ceker Cipak belum bisa memejamkan matanya, karena memikirkan ibunya yang tidur sendirian di gubuk. Ia juga memikirkan uang pemberian ibunya yang telah habis untuk menebus keempat binatang tersebut. Ia bingung untuk menjelaskan semua itu kepada ibunya. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba si Ular merayap mendekatinya.
“Wahai, Tuanku yang berbudi luhur! Jika besok saat pulang dan bertemu dengan seekor ular besar, Tuan jangan takut! Dia adalah ibuku yang bernama Naga Gombang. Meskipun terkenal sangat ganas, tapi dia tidak akan mengganggu orang yang tekun menjalankan dharma. Jika ia memintaku darimu, maka mintalah tebusan kepadanya!” ujar si Ular.
Keesokan harinya, I Ceker Cipak pun berpamitan kepada sang Raja. Raja yang baik hati itu membekalinya kain, uang, dan sepuluh ikat jagung.
“Bawalah kain, uang dan jagung ini sebagai oleh-oleh untuk ibumu di rumah!” ujar sang Raja.
“Terima kasih banyak atas semua kebaikan, Gusti! Semoga Tuhan senantiasa memberkahi Gusti!” ucap I Ceker Cipak seraya memberi hormat untuk memohon diri.
I Ceker Cipak kembali ke kampung halamannya melewati jalan semula. Ketika ia memasuki hutan belantara, tiba-tiba ia dihadang oleh seekor ular yang sangat besar.
“Hai, Anak Muda! Berhenti dan serahkan ular itu kepadaku!” seru ular besar itu.
“Hai, Ular Besar! Pasti kamu yang bernama Naga Gombang. Ketahuilah wahai Naga Gombang, akulah yang telah menyelamatkan anakmu! Jika kamu hendak mengambil anakmu dariku, kamu harus menebusnya!” kata I Ceker Cipak.
“Wahai, Anak Muda! Jika memang benar yang kamu katakan itu, ambillah cincin permata yang ada di ekorku sebagai penebus! Semua barang akan menjadi emas jika kamu gosokkan dengan cincin itu,” ujar Naga Gombang.
I Ceker Cipak pun mengeluarkan ular yang ada di dalam keranjangnya lalu menyerahkannya kepada Naga Gombang. Setelah itu, ia segera mengambil cincin permata di ekor Naga Gombang, kemudian menyelipkan di ikat pinggangnya dan melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di gubuknya,ikat pinggangnya telah berubah menjadi emas. Ibunya pun sangat heran menyaksikan peristiwa ajaib itu.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi, Anakku?” tanya ibunya heran.
I Ceker Cipak pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya selama dalam perjalanan hingga tiba kembali ke rumah. Ibunya merasa amat bahagia memiliki anak yang taat menjalankan dharma. Sejak memiliki cincin permata itu, kehidupan keluarga I Ceker Cipak berubah. Kini, ia telah menjadi kaya raya di kampungnya. Ia hidup berbahagia bersama ibu dan ketiga hewan piaraannya, yakni si tikus, kucing, dan ajingnya. Meskipun sudah menjadi orang kaya, I Ceker Cipak tetap rajin bekerja.
Pada suatu hari, I Ceker Cipak membantu ibunya menumbuk padi, namun ia lupa melepas cincin permata dari jari tangannya. Tanpa disadarinya, cincin permata itu patah dan jatuh ke dalam lesung. Maka seketika itu pula lesung dan alu itu tiba-tiba berubah menjadi emas. Sejak itu, I Ceker Cipak semakin terkenal dengan kekayaannya hingga ke berbagai penjuru negeri.
Setelah itu, I Ceker Cipak membawa cincinnya yang patah ke tukang emas untuk diperbaiki. Rupanya, tukang emas itu mengerti bahwa cincin itu memiliki tuah yang dapat mendatangkan kekayaan. Oleh karena itu, ia berniat untuk memilikinya. Agar tidak ketahuan oleh pemiliknya, ia pun membuat sebuah cincin palsu yang sangat mirip dengan cincin permata ajaib itu. Ketika I Ceker Cipak datang hendak mengambil cincinnya, ia memberikan cincin yang palsu. Setibanya di rumah, ia ingin menguji kesaktian cincin permata itu. Perlahan-lahan ia menggosokkan cincin itu pada sebuah batu, namun batu itu tak kunjung berubah jadi emas. Dari situlah I Ceker Cipak mulai curiga.
“Bu! Coba periksa cincin permata ini! Sepertinya ia tidak sakti lagi,” kata I Ceker Cipak. “Wah, jangan-jangan tukang emas itu telah menukarnya!”
Setelah diperiksa oleh ibunya, ternyata benar cincin itu palsu. Ibunya sangat mengenal bentuk cincin permata yang asli itu.
“Dugaanmu benar, Anakku! Tukang emas itu telah menukar cincinmu dengan cincin palsu,” kata ibunya.
“Apa yang harus kita lakukan, Bu?” tanya I Ceker Cipak.
Suasana di rumah itu menjadi hening. Hingga malam larut, mereka belum juga menemukan jalan keluar. Hati mereka diselimuti perasaan sedih. Melihat tuannya bersedih, si Tikus, Kucing, dan Anjing melakukan musyawarah secara diam-diam. Mereka ingin membantu tuannya untuk mendapatkan kembali cincin permata tersebut dari si tukang emas. Setelah mengatur siasat, mereka pun berangkat ke rumah si tukang emas tanpa sepengetuhuan I Ceker Cipak dan ibunya.
Setelah semuanya sudah siap, mereka pun mulai menjalankan tugas masing-masing. Si Kucing mulai mencakar-cakar pintu rumah si tukang emas, sehingga si tukang emas terbangun. Begitu tukang emas itu membuka pintu, si Kucing mencakar-cakar kakinya hingga jatuh terguling-guling di tangga. Si Anjing yang sedang menunggu di depan tangga segera menggigitnya. Tukang emas itu pun tergeletak tak sadarkan diri. Pada saat itulah, si Tikus segera masuk ke dalam rumah. Dengan ganasnya, ia melubangi peti tempat penyimpanan perhiasan tukang emas itu, lalu mengambil cincin permata tuannya. Setelah itu, mereka segera kembali ke rumah untuk menyerahkan cincin itu kepada I Ceker Cipak. Hari sudah pagi, namun mereka belum juga sampai di rumah tuannya.
Sementara itu, I Ceker Cipak yang baru bangun tidur sangat cemas, karena ketiga binatang piaraannya tidak ada di rumah.
“Bu! Apakah Ibu tahu ke mana binatang piaraanku pergi?” tanya I Ceker Cipak.
“Wah, Ibu tidak tahu, Anakku! Sejak tadi Ibu juga belum melihatnya,” jawab Ibunya.
Baru saja I Ceker Cipak akan pergi mencarinya di sekitar gubuk, ketiga binatang piaraannya tersebut tiba-tiba muncul dari balik semak-semak. Alangkah terkenjutnya ia ketika melihat cincin permatanya ada di mulut si Tikus. Ia baru sadar bahwa ternyata ketiga binatang piaraannya pergi ke rumah si tukang emas untuk mengambil cincin permata itu. Ia pun menyambut mereka dengan perasaan gembira.
“Terima kasih, kalian telah membantuku mendapatkan kembali cincin permata ini,” ucap I Ceker Cipak setelah si Tikus menyerahkan cincin itu kepadanya.
Sejak itu, I Ceker Cipak sangat berhati-hati dalam menjaga cincin permata saktinya. Semakin hari, harta kekayaannya pun semakin bertambah. Ia adalah orang kaya yang dermawan. Ia senantiasa membantu para warga di sekitarnya yang membutuhkan. Ia juga selalu mengingat semua orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Pada suatu hari, I Ceker Cipak bersama ibu dan ketiga hewan piaraannya datang menghadap kepada sang Raja untuk mengucapkan terima kasih. Ia datang dengan pakaian yang sangat rapi dan bersih, sehingga terlihat tampan dan gagah. Sebagai ucapan terima kasih, ia persembahkan sebagian emasnya kepada sang Raja. Melihat ketampanan dan kegagahan I Ceker Cipak, sang Raja tiba-tiba terpikat hatinya ingin menikahkan dia dengan putrinya yang bernama Ni Seroja. Akhirnya, I Ceker Cipak menikah dengan Putri Ni Seroja. Sejak itu, I Ceker Cipak tinggal di istana bersama istri, ibu, dan hewan-hewan piaraannya. Mereka hidup bahagia dan sejahtera.
Nama : Jessica Chandra
Kelas : XI P.4 (No : 19)

